RSS

PERCOBAAN 2 PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN SERTA REAKSI ASAM DAN BASA


ABSTRAK


Pada percobaan ini dilakukan 6 kali percobaan yaitu pembuatan larutan HCl, pembuatan larutan NaOH, pengenceran larutan HCl, titrasi asam terhadap basa, titrasi basa terhadap asam, dan penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan Na2CO3. Pada pembuatan larutan, yang pertama dilakukan adalah menimbang wadah yang dipakai untuk diisi larutan yang akan dibuat. Kemudian menambahkan zat yang akan dibuat larutan dengan aquades, lalu mengocoknya hingga homogen, setelah itu larutan yang sudah jadi ditimbang, diukur suhunya, dan ditentukan sifat pelarutannya. Untuk pengenceran yaitu memasukkan larutan yang telah dibuat ke dalam labu takar, mengencerkan dengan aquades dan menempatkannya sampai tanda tera, mengocok hingga homogen, lalu menentukan konsentrasi hasil pengencerannya. Pada penitrasian asam terhadap basa dan basa terhadap asam yang dilakukan yaitu mengambil larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer, menambahakan indikator pp, untuk asam terhadap basa mengisi buret dengan larutan asam, untuk basa terhadap asam mengisi buret dengan larutan basa, lalu menitrasinya, kemudian mencatat pembacaan volume terakhir, mengamati titik akhir dan melihat perubahan warna. Pada penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan lain yang dilakukan pertama yaitu mengambil larutan enceryang telah dibuat, memasukkan ke dalam erlenmeyer, menambahakan indikator 2-3 tetes, menitrasinya lalu menghitung molaritasnya.
Pada titrasi asam warna dari kuning menjadi merah muda, begitu juga pada titrasi basa terhadap asam warna berubah dari merah muda menjadi kuning muda. Kemudian pada proses penentuan konsentrasi larutan standar dengan indikator methyl merah warna berubah dari merah muda menjadi orange.
     
      Kata kunci : Konsentrasi, larutan, asam, basa,pengenceran.












2.1 Pendahuluan

2.1.1        Tujuan Percobaan
            Tujuan dari percobaan ini adalah : membuat larutan NaOH dan larutan HNO3 serta pengenceran larutan, menghitung beberapa larutan dengan beberapa satuan dan menentukan konsentrasi larutan asam dengan larutan Na2CO3.

2.1.2 Latar Belakang
                          Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Larutan terbagi menjadi tiga, yaitu larutan bersifat asam, basa, dan netral. Contoh asam adalah cuka, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, asam ditemukan sebagai makanan, buah-buahan, basa digunakan sebagai pAsta gigi, detergan dan lain-lain.
                          Dalam larutan terdapat pelarut, untuk menyatakan banyaknya pelarut dan zat terlarut dikenal sebagai konsentrasi. Percobaan ini dilakukan agar praktikan mengetahui tentang cara terbentuknya larutan, jenis-jenis larutan, serta satuan konsentrasi serta menghitungnya, dan juga melakukan analisis terhadap larutan asam dan basa dengan menggunakan indikator.









2.2  Dasar Teori

Berdasarkan fase zat setelah dicampur, maka campuran yang ada homogen dan heterogen. Campuran yang membentuk satu fase, yaitu yang mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian dengan bagian yang lain di dekatnya. Campuran homogen ini disebut dengan larutan. Untuk menyatakan banyaknya Zat terlarut dan pelarut dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat (w/w), persen volume (v/v), molaritas, molalitas, ppm, fraksi mol dan lain-lain. (Syukri, 1999, 350-351)
Persen volume (v/v) menyatakan ml zat terlarut dalam 100 ml larutan. Persen berat (w/w) menyatakan gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. Molaritas menyatakan mol zat terlarut dalam 1 liter larutan, sedangkan molalitas menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam 1 kg pelarut. Part per million (ppm) menyatakan mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan. Fraksi mol menyatakan mol zat terlarut per mol total (Anonim, 2009).
Biasanya dalam larutan dimasukkan fase cair lazimnya salah satu komponen penyusunnya larutan semacam itu adalah suatu cairan sebalum cairan itu dibuat. Cairan ini disebut medium pelarut. Komponen yang lain dapat berbentuk gas, cairan ataupun padat dapat dibayangkan sebagai terlarut ke dalam komponen pertama, zat yang terlarut disebut zat terlarut (Keenan dkk, 1984: 372).
Proses yang digunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu larutan dikenal sebagai Standarisasi. Suatu larutan standar dapat dibuat dari sejumlah contoh yang diinginkan yang ditimbang secara teliti kemudian melarutkannya ke dalam volume larutan yang secara teliti diukur volumenya. Beberapa zat tadi yang memadai dalam hal ini disebut Standar Primer. Suatu larutan lebih umum distandarisasi dengan cara titrasi, dimana pada proses itu, ia bereaksi dengan cara standar primer (Petrucci, 1987).
Zat-zat organik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting, yaitu: asam, basa dan garam. Asam secara paling sederhana diklasifikasikan sebagai zat yang bila dilarutkan ke dalam air, akan mengalanmi disosiasi dengan pembentukan ion hydrogen (H+) sebagai satu-satunya ion positif. Sedangkan basa, secara paling sederhana diklasifikasikan sebagai zat apabila dilarutkan dalam air, disosiasi dengan pembentukan sebagai ion-ion hidroksi (OH-) sebagai satu-satunya ion negatif (Keenan dkk, 1984).
Bobot ekivalen dan larutan normal pentinga dalam reaksi asam basa. Normalitas suatu larutan asam basa didefinisikan sebagai jumlah ekivalen zat terlarut per liter larutan. Titrasi adalah proses pembentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi. Dalam titrasi asam basa haruslah menggunakan keseimbangan sistematis untuk memeriksa perkiraan yaitu dibagi dalam titrasi asam kuat-basa kuat (terurai sempurna dalam air) dan titrasi asam lemah-basa lemah. Dalam analisis larutan asam basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. Volume-volume suatu asam atau suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan dkk, 1984: 414-423).
Asam dan basa mempunyai sifat-sifat tertentu yang mempermudah kita untuk mengenalnya, misalnya larutan suatu asam mempunyai rasa asam        (pada jus lemon dan cuka). Sebaliknya basa seperti magnesium hidroksida dalam milk of magnesia mempunyai rasa sepat.Sifat-sifat lain asam dan basa adalah pengaruhnya pada indikator, yaitu suatu zat kimia yang warnanya tergantung pada kesamaan atau kebiasaan larutan (Brady, 1999).
Indikator asam–basa adalah asam lemah, yang asam tak terion-nya (Hln) mempunyai warna yang berbeda [warna 1] dengan warna anionnya [warna 2].Jika sedikit indikator dimasukkan dalam larutan, larutan akan berubah warna menjadi warna (1) dan warna (2), tergantung pada apakah kesetimbangan kearah asam atau anion.Indikator asam basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan (dalam air, etanol, atau pelarut lain).Dalam titrasi asam basa sejumlah kecil atau beberapa tetes larutan indikator ditambah ke dalam larutan yang sedang dititrasi.indikator asam basa umumnya digunakan jika penentuan pH yang teliti tidak terlalu diperhatikan (Petrucci, 1992).
Standardisasi adalah suatu proses yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan secara teliti.Larutan standar adalah larutan yang mengandung berat tertentu suatu zat atau reagen dalam volume tertentu suatu larutan, sehingga larutan tersebut dapat diketahui konsentrasinya secara pasti (Anshory, 1987).
Komponen utama dalam larutan disebut pelarut, dan komponen minornya disebut zat terlarut.Pelarut pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium bagi zat terlarut, yang dapat berperan serta dalam reaksi dalam larutan karena pengendapan atau penguapan.Maka larutan adalah sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat (Oxtoby, 2001).
Dalam pekerjaan sehari-hari di laboratorium, biasnya kita menggunakan larutan yang lebih mudah konsentrasinya, dengan cara menambahkan pelarutnya, misalnya banyak laboratorium kimia kimia membeli larutan senyawa kimia dalam air yang konsentrasi larutannya pekat, sebab cara ini adalah cara yang paling ekonomis.Biasanya senyawa kimia yang dibeli sangat pekat sehingga harus diencerkan.proses pengencerannya adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar (Brady, 1999).














2.3 Metodelogi Percobaan

Alat Dan Bahan
2.3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer, buret, gelas piala, labu takar, pipet tetes, pipet mohr, pipet gondok, corong, termometer, statif, gelas arloji, neraca analitik dan botol semprot.                 
2.3.2  Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah, HNO3,  larutan NaOH, larutan Na2CO3,  HCL, indikator metil unggu, indikator pp, indikator metil merah, aquadest.

2.3.3 Prosedur Kerja
2.3.3.1  Pembuatan Larutan HNO3
1.              Menimbang labu takar 50 ml, mengisi dengan aquadest hingga ¾ nya. Menimbang ( b gram), mengukur suhu ( t1).
2.              Menimbang gelas ukur kosong (c gram), mengisi dengan HCl pekat, menimbang (d gram), mengukur volume dan suhunya (t2).
3.             Menuangkan HNO3 kedalam labu takar, menambahkan aquadest hingga  50 ml, mengocok, menimbang, (e gram), dan mengukur suhunya(t3).
4.             Menentukan sifat pelarutnya, menghitung konsentrasinya dengan satuan %w/w, % v/v, molaritas dan molalitas.

2.3.3.2  Pembuatan Larutan NaOH
1.             Menimbang 1 butir NaOH padat 0,3 gram dengan neraca analitik.
2.             Melarutkan dalam gelas piala, memindahkan larutan ke dalam labu takar 50 ml, membilas gelas piala dengan aquadest.
3.             Mengencerkan sampai tanda tera, mrngocok.
4.             Menghitung konsentrasi dalam % w/v dan molaritas.

2.3.3.3  Pengenceran Larutan HNO3
1.             Memipet 5 ml HNO3 yang telah dibuat pada prosedur A dengan pipet gondok kemudian memasukkan ke dalam labu takar 50 ml.
2.             Menambahkan aquadest untuk mengencerkan kemudian mengocok agar homogen hingga tanda tera.
3.             Menghitung konsentrasi HNO3 hasil pengenceran.

2.3.3.4 Titrasi Asam terhadap Basa ( HCl terhadap NaOH)
1.             Memasukkan NaOH sebanyak 10 ml kedalam Erlenmeyer.
2.             Menambahkan 1 tetes indicator metil merah.
3.             Mengisi buret dengan HCl kemudian membaca miniskus awalnya.
4.             Mentitrasi, kemudian ketika warna berubah merah muda, menghitung volume yang keluar.
5.             Menghitung konsentrasi NaOH.

2.3.3.5 Titrasi Basa terhadap Asam ( NaOH terhadap HCl)
1.             Memasukkan HCl sebanyak 10 ml ke dalam Erlenmeyer.
2.             Menambahkan 1 tetes indicator metil merah.
3.             Mengisi buret dengan NaOH kemudian membaca miniskus awalnya.
4.             Mentitrasi kemudian ketika warna berubah kuning, menghitung volume yang keluar.
5.             Menghitung konsentrasi NaOH.

2.3.3.6  Penentuan Konsentrasi Larutan Standar dengan larutan Na2CO3.
1.             Memasukkan HNO3 sebanyak 15 ml ke dalam Erlenmeyer.
2.             Menambahkan tetes indikator metil unggu.
3.             Mengisi buret dengan Na2CO3 membaca miniskus awal.
4.             Mentitrasi, kemudian setelah warna berubah menjadi warna jingga, menghitung volume yang keluar.
5.             Menghitung Molaritas HNO3 hingga 4 desimal.
6.             Mengulangi percobaan dengan indikator pp.


















2.4 Hasil Dan Pembahasan
2.4.1 Hasil Percobaan
2.4.1.1. Pembuatan Larutan HNO3
Tabel 2.1. Pembuatan Larutan HNO3
No
Langkah percobaan
Hasil Pengamatan
1.

2.
3.
4.

5.
6.



Menimbang labu takar 100 ml, kemudian di isi dengan aquadest sampai kira-kira ¼ nya.
Mengukur suhunya
Mengisi labu takar dengan HNO3 pekat
Mengencerkan dengan aquadest  sampai tanda tera, kemudian dikocok hingga homogen
mengukur suhunya dengan termometer
Menentukan konsentrasinya.
Massa =  39 gr
Massa=  83,7gr
t1 = 29°C
V= 2 ml, t2 = 28°C
Massa = 88, 7 gr

t3= 30 oC


2.4.1.2 Pembuatan larutan NaOH
Tabel 2.2. Pembuatan larutan NaOH
No
Langkah percobaan
Hasil pengamatan
1.
2.

3.



Menimbang NaOH padat
Melarutkan NaOH tersebut dalam gelas piala dengan sedikit air.
Memindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 50 ml dan diencerkan, tepat sampai tanda tera, mengocok.
Massa = 0,3gram
NaOH larut dalam akuades

Larutan NaOH encer yang homogen





2.4.1.3  Pengenceran larutan HNO3
 Tabel 2.3. Pengenceran larutan HNO3
No.
Langkah percobaan
Hasil pengamatan
1.

2.

3.
Mengambil larutan  HNO3 dan memasukkanya ke dalam labu takar.
Menngencerkan dan menepatkan sampai tanda tera, kocok agar homogen.
Menghitung konsentrasi  HNO3.
Volume awal = 5 ml
Volume sesudah diencerkan= 50ml

2.4.1.4 Titrasi asam terhadap basa (HCl terhadap NaOH)
Tabel 2.4. Titrasi asam terhadap basa (HCl terhadap NaOH)
No.
Langkah percobaan
Hasil percobaan
1.

2.

3.
4.








5.

Mengambil NaOH dan memasukkan ke dalam Erlenmeyer
Menambahkan 1 tetes indikator methyl merah
Mengisi buret dengan HCl 0,1 N dan mencatat Membacaan miniskus  awal dan akhir
Menitrasi 1
Vo
V1
V awal
Menitrasi 2
Vo
V1
V kedua
Volume rata-rata
Perubahan yang terjadi pada tirasi
V= 10 ml
Larutan bening
Larutan berwarna kuning
miniskus= 0 ml

0 ml
11 ml
11 ml

11ml
22 ml
11 ml
11 ml
Larutan menjadi merah muda


2.4.1.5  Titrasi basa terhadap asam (NaOH terhadap HCl)
Tabel 2.5. Titrasi basa terhadap asam (NaOH terhadap HCl)
No.
Langkah percobaan
Hasil percobaan
1.

2.

3.
4.









5.

Mengambil HNO3 dan memasukkan ke dalam Erlenmeyer.
Menambahkan 1 tetes indikator methyl merah

Mengisi buret dengan NaOH dan mencatat Membacaan miniskus  awal dan akhir
Menitrasi 1
Vo
V1
V awal
Menitrasi 2
Vo
V1
V kedua
Volume rata-rata
Perubahan yang terjadi pada tirasi
V= 10 ml
Larutan bening
Larutan berwarna merah muda
miniskus= 0 ml


0 ml
8,8 ml
8,8 ml

8,8ml
18,9 ml
9,1 ml
9,45 ml
Larutan menjadi kuning

2.4.1.6 Penentuan konsentrasi larutan  standar dengan larutan Na2CO3
Tabel 2.6. Penentuan konsentrasi larutan  standar dengan larutan Na2CO3
No.
Langkah percobaan
Hasil Pengamatan
1.

2.
3
4


5









6.









Mengambil 15 ml HNO3 encer ke dalam erlenmeyer.
Memasukkan Na2CO 0,1M ke dalam buret.
Menambahkan 2-3 tetes indikator metil ungu.
Menitrasi larutan ini dengan larutan Na2CO3  sampai terjadi perubahan warna, membaca volume awal dan volune akhir
Membacaan miniskus  awal dan akhir, memperhatikan perubahan warna
Menitrasi 1
Vo
V1
V awal
Menitrasi 2
Vo
V1
V kedua
Volume rata-rata
Mengulangi dengan mengganti indicator menjadi pp.
Membacaan miniskus  awal dan akhir, memperhatikan perubahan warna
Menitrasi 1
Vo
V1
V awal
Menitrasi 2
Vo
V1
V kedua
Volume rata-rata

Warna larutan bening
V awal = 0 ml
Warna menjadi ungu


Hingga menjadi warna biru

0 ml
3,3 ml
3,3 ml

3,3 ml
6,5 ml
3,2 ml
3,25 ml
Warna menjadi putih
Hingga berwarna merah muda

0 ml
6,6 ml
6,6 ml

6,6 ml
12,9 ml
6,3 ml
6,45 ml





2.4.2. Pembahasan
Dalam perdobaan kali ini, praktikan melakukan pembuatan larutan HNO3. Namun sebelum membuat lerutan HNO3, praktikan harus menumbang labu takar dan grlas ukur guna mengetahui massa larutan sebenarnya. Menurut teori, larutan HNO3 sesudah dicampur aquadest mengalami perubahan larutan HNO3 ini bersifat eksoterm, melepaskan panas. Nemun berdasarkan percobaan, suhu HNO3 sebelum dicampur adalah 28 derajat Celsius, kemudian uhu HNO3 adalah 29 derajat Celsius, maka suhu larutan menjadi 30 derajat Celsius. Hal ini tidak sesuai dengan teori disebabkan disebabkan kerana suhu ruangan berubah-ubah sehingga mempengaruhi suhu larutan dalam labu takar. Kesalahan ini juga disebabkan karena HNO3 dan aquadest  belum benar-benar homogen.
Senyawa-senyawa yang mengalami eksoterm memiliki entalpi negatif. Karena HNO3 mengalami eksoterm, ia memiliki harga entalpi yang negatif. Titik didihnya adalah 83 derajat celsius, sedangkan aquadest adalah 100 derajat Celsius. HNO3 merupakan asam  kuat yang bercampur dalam semua perbandingan. Reaksi yang terjadi ialah:
         HNO3 pekat + H2O  " HNO3 + H2O
Pada percobaan NaOH dilarutkan ke dalam air, larutan tersa sedikit panas dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan ia bersifat eksoterm. Perhitungan yang diperoleh adalah NaOH dengan konsentrasi 0,15 molaritas.persamaan rekasi yang terjadi:
         NaOH pekat + H2O  " NaOH + H2O
Pada proses pengenceran HNO3 tidak terrjadi perubahan yang nyata pada larutan. Tidak terjadi perubahan warrna, namun terjadi perubahan konsentrasi melalui perhitunganakni konsentrai yang diperolaeh adalah 0.0557 M. Perbandingannya dengan konsentrasi awal adalah 10:1.
Titrasi asam terhadap basa, pada percobaan ini menggunakan indikator metil merah. Warna larutan yang dihasilkan pada saat ditetesi indikator metil merah pada larutan NaOH, larutan berwarna kuning. Namun, setelah dilakukan titrasi dengan menggunakan HCl, pada penggunaan tertentu volume larutan akan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Konsentrasi dari perhitungan adalah 0,11 N.Reaksi yang terjadi pada titrasi asam terhadap basa yaitu :
NaOH(S) + HCl(l)  " NaCl(l) + H2O(aq)
Pada percobaan titrasi basa terhadap asam ini digunakan indikator metil merah juga, namun pada saat ditetesi indikator metil merah pada larutan HCl warna lautan berubah menjadi merah muda. Setelah dititrasi denga larutan NaOH 0,1 M. larutan berubah menjadi berwarna kuning muda. Konsentrasi HCl  adalah 0.0945 N.
Reaksi yang terjadi yaitu :
HCl(l) + NaOH(s) " NaCl(l) + H2O(aq)
Pada pecobaan penentua larutan standar dengan larutan Na2CO3, digunakan indikator metil ungu,setelah ditetesi larutan HNO3 berwarna merah muda. Namun setelah dititrasi dengan Na2CO3, pada volume tertentu larutan akan mengalami perubahan warna menjadi ungu. Setelah dititrasi denagn larutan stendar menjadi berwarna biru. Molaritas yang diperoleh setelah dihitung adalah sebesar 0,217 M. Sedangkan untuk HNO3 yang ditetesi indikator pp tidak mengalami perubahan warna yakni bening. Namun setelah titrasi, warna menjadi merah mnda. Dengan perhitungan diperoleh konsentrasi 0,0249 M.
Selain itu terdapat perbedaan mencolok yaitu volime rata-rata titrasi adalah 3,25 ml untuk metil violet, dan 6,43 ml untuk indikator pp. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan pH pada indikator, yakni metil violet bersifat asam sedangkan pp bersifat basa.
Reaksi antara HNO3 dengan Na2CO3 yaitu:
2HNO3 (aq) + Na2CO3 (aq) —— 2NaNO3 + CO2 + H2O







2.5            Penutup

2.5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain:
  1. Pada pembuatan HNO3 diperoleh persen berat 3,5312%. Persen volume 4%, molaritas 0,5571 M, molalitas 0,581 m, ppm= 3,51 x 104 dan fraksi mol sebesar 0,01035.
  2. Larutan NaOH dibuat dengan melarutkan kristalnya dengan akuades, diperoleh molaritas 0,15 M dan persen berat 0,6 %.
  3. Pada pengenceran HNO3 diperolah konsentrasi sebesar 0,557 molar.
  4. Titrasi asam basa diperoleh molaritas 0,11 N.

2.5.2        Saran
              Sebaiknya berhati-hati saat melakukan praktikum misal mengambil dan memindahkan larutan serta memakai masker dan sarung tangan untuk keselamatan kerja. Praktikan juga harus teliti agar hasil dapat sesuai target.













 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Penuntun Praktikum Kimia Dasar Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Anshory.1987. Kimia Organik. Gane├žaExact. Bandung
Brady, J.E.1990. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binaputra Aksara. Jakarta.
Day, R.A.JR dan A.L Underwood. 1998. Kimia Analisa Kualitatif Edisi Revisi. Terjemahan R. Soendoro dkk. Jakarta.
Petrucci, Ralph. H. 1987. Kimia Dasar Jilid III. Erlangga. Bogor.
Syukri,S. 1990. Kimia Dasar Jilid I. ITB. Bandung.




















LAMPIRAN

PERHITUNGAN PERCOBAAN II

(Pembuatan Dan Pengenceran Larutan Serta Reaksi Asam Dan Basa)
a). Pembuatan HNO3
Diketahui :
              - Massa labu takar kosong 50 ml       = 39     gr
              - Massa labu takar + akuades            = 83,7  gr
              - Massa gelas ukur kosong                = 30     gr
              - Massa gelas ukur + HNO3              = 32,7  gr
              - Massa labu takar + aquadest + HNO3           = 88,7  gr
              - t1                                                     = 290    C
              - t2                                                     = 280    C
              - Bm HNO3                                       = 53     gr/mol
              - BM aquadest                                  = 18     gr/mol
              - Volume Pengenceran                      =100    ml

Ditanya a. % (w/w)                 d. Molalitas (m)
                         b. % (v/v)                   e. ppm
                         c. Molaritas (M)         f. Fraksi mol

Jawab :

Massa HNO3               = {(massa gelas ukur + HNO3) – (massa gelas ukur)}
                                        x 65%
                                    = {32,7 gr – 30 gr} x 65 %
                                    = 1,755 gr


Massa campuran          = (massa labu takar + akuades + HNO3) – (massa labu
                                    takar)
                                    = 88,7 gr- 39 gr
                                    = 49,7 gr

Massa aquadest           = (massa labu takar+  aquadest + HNO3) -
                                    (massa labu takar + massa HNO3)
                                    = 88,7 gr -(39 gr + 1,755 gr)
                                    = 47,964 gr

a.            % w/w          = 32,01 gram
                        = X 100%
                        =  X  100 %
                                                                                                          
                        = 3,5312 %

b. % (v/v)        =   X 100 %
                        =   X 100 %
                                                              
                        =  4 %

c. Molaritas HNO3      =   
                                   
                                    =  
                                    =   
                                    = 0,5571 M

d. Molalitas                 =         x                                  
                                                                                            
                                    =    x                            
                            
                                    = 0,581 molal

e. ppm                         =                               
                                            
                                    =              
                                             
                                    = 35100 ppm

f. Fraksi mol                =                    
                                       
                                    =                                                 
                                                                              
                                                 
                                    =  1,035 x 10-2


b). Pembuatan Larutan NaOH
Diketahui        :m NaOH        = 0,3 gr
                                    :BM NaOH     = 40 gr / mol
Ditanya           :a. M NaOH
                        b. % (w/v)
Jawab  :          
            a. Mol NaOH              =
                                               
                                     =    
                                     = 0,0075 mol

            M NaOH         =
                                                                   
                                           0,0075
                                    =  ———— 
                                         50 / 1000                           
                                    = 0,15 M

             b. % (w/v)      =  X 100 %
                                                                   
                                    = X 100 %
                                     
                                    = 0,6 %




c). Pengenceran Larutan HNO3
M1· V1 = M2 · V2
Keterangan : M1          = Konsentrasi sebelum diencerkan ( hasil percobaan                         5.1 bagian c )
                        V1        = Volume yang diambil (sebelum diencerkan)
                        V2        = Volume larutan setelah diencerkan
Diketahui    :M1=  0,5571 M
                                V1            = 5 ml
                                V2            = 50 ml
Jawab          : M1· V1               = M2 · V2
                                  0,5571 · 5          = M2 · 50
                                  2,7855               = M2 50
                                M2                       =  0,0557 M



d). Titrasi Asam Terhadap Basa
              Diketahui     : V awal HCL      : 11 mL
                                                 Vakhir HCL     : 11 mL
                                    N  HCL          : 0,1 N
                                    V NaOH         : 10 ml
Ditanya         : Konsentrasi NaOH....?
Jawab                        : V rata-rata= (Vakhir + V awal)/ 2=  (11+ 11)/ 2            
                         V NaOH . N NaOH   =          V HCl . N HCl
          10 ml . N NaOH         =          11 ml . 0,1 N

                      N NaOH         =         0,11 N
e). Titrasi Basa Terhadap Asam
              Diketahui      :V awal                        : 8,8  ml           M HCL           :0,1 M
                                     V akhir           :18,9 ml           V NaOH         :10 ml
                                     V titrasi          :9,1 ml
Ditanya         : Konsentrasi NaOH.....?
Jawab                        :
V NaOH . N NaOH  =          V HCl . N HCl
9,4 ml . 0,1 ml           =          N HCl . 10 ml
          N HCl             =          0,0945 N

f). Penentuan Konsentrasi Laruan Standar Dengan Na2CO3
Pada indikator metil ungu                  
Diketahui  :V titrsasi 1            : 3,3 ml
                                     V titrasi 2       : 6,5 ml
                                     V1 awal           : 0 ml
Ditanya     : M HNO3
Jawab        :
                                    V2 (I)                 = miniskus akhir – miniskus awal
                                                            = 3,3 – 0,00
                                                            = 3,3 ml
                                    V2 (II)                = miniskus akhir – miniskus awal
                                                            = 6,5 – 3,3
                                                            = 3,2 ml
                                                                       
                        V2 Rata-rata    =   V Na2CO3  =
                                                                                                
                                                                        =                                                                              
                                                                        = 3,25 ml
M HNO3 · V HNO3             =          M Na2CO3 · V Na2CO3
                        M HNO3 . 15 ml                     =          0,1 · 3,25
                        M HNO3                                 =          0,0217 M

Menggunakan indikator pp
Diketahui  :V titrsasi 1            : 6,6 ml
                  V titrasi 2  : 12,9 ml
                  V1 awal      : 0 ml
Ditanya     : M HNO3
Jawab        :
                                    V2 (I)                 = miniskus akhir – miniskus awal
                                                            = 6,6 – 0,0
                                                            = 6,6 ml
V2 (II)                = miniskus akhir – miniskus awal
                                                            = 12,9 – 6,6
                                                            = 6,3 ml
                                                                       
                        V2 Rata-rata    =   V Na2CO3  =
                                                                                                
                                                                        =                                                                              
                                                                        = 6,43 ml

M HNO3 · V HNO3             =          M Na2CO3 · V Na2CO3
                        M HNO3 . 15 ml                     =          0,1 · 6,43 ml
                        M HNO3                                 =          0,0429 M














Tugas

01.Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer dan larutan standar sekunder
Jawab :
-          Larutan standar primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat-sangat murni yang dilarutkan dan volume larutan yang terjadi
-          Larutan standar sekunder adalah larutan yang masih belum diketahui konsentrasinya. Untuk itu perlulah mencari berat dan seberapa volume larutan yang ikut dalam pencampuranya (pembentukan konsentrasinya).
02.Syarat apa yang harus dipenuhi oleh suatu zat agar dapat dipergunakan sebagai larutan standar primer
jawab :
-          zat itu harus mudah didapat dalam bentuk murni dan keadaan kemurniannya harus diketahui dengan tepat.
-          Zat itu harus tetap, mudah dikeringkan dan tidak higroskopis.
-          Zat itu mempunyai berat ekuivalen yang cukup tinggi agar dapat mengurangi konsekuensinya akibat kesalahan dalam penimbangan.
03.Berikan sifat fisik dan kimia dari senyawa NaOH dan H2SO4  
Jawab:
a.       Sifat fisik NaOH berupa Padatan, berwarna putih. Sedangkan sifat kimianya beracun, korosif dan merupakan basa kuat.
b.      Sifat Fisik H2SO4 berwujud cair berwarna bening. Sedangkan sifatkimianya berupa asam kuat, beracun dan korosif

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Be My BestFriends

kasih makan ikan yuk..Tinggal klik aja di dalam akuariumnya ^^